Showing posts with label KaryaQ. Show all posts
Showing posts with label KaryaQ. Show all posts

Saturday, February 26, 2011

M.E.N.U.N.G.G.U.

Dua tahun yang lalu puisi ini tercipta. Seperti biasa, inspirasi datang begitu saja.

Semua titik terlihat tak bermakna

Yang mendesakku kembali ke sana

Awal yang menjadi luruhan daun kering

Akhir yang menyejukkan umpama salju,

yang bergelantungan di pucuk cemara

tak mengapa bila terkena surya

abadi, tidak mati


Onak duri yang terhampar di tanah bernama hidup

Tajam kerikil menggores tiap pejuang : aku dan kamu

Ingin kembali dan tak undur

Karna negeri bahagia tlah menanti

Dia juga, yang sangat merindu


Lengkungan indah pada sisi pelangi

Alunan musik sederhana dari bibir-bibir polos

Wajah-wajah malaikat yang merana bahagia

Atmosfir penyaman melingkupi keseluruhan tanahku

Apalagi yang kubutuh?

Bila pun sabit tak bisa menjadi purnama

Di penjara berbungkus keindahan

Aku mau menunggu

Karena janji kepastian tak pernah mengecewakan

Kalaupun aku menduluimu pada gerbang depan

Langkah tak berlanjut

Menunggumu....’tuk saling mengaitkan jari,

menapak bersama ke dalam impian kita,

sebabnya bergegaslah

Aku menunggu, di sini.


13 September 2009,

[Sakit yang bercahaya]



Read More......

Monday, September 20, 2010

Perjalanan Ke Dua Tanah Suci (2)

Namun tiba-tiba kami mendapatkan kabar dari Acik yang membuat perasaanku campur aduk. “Kita gak jadi berangkat tahun ini. Karena kuota untuk NAD dikurangi, nomor seat kita sekeluarga tidak masuk dalam daftar keberangkatan.”, jelas Acik pada suatu kesempatan. Rasa kecewa menelusup halus ke dalam hatiku. Mengapa tidak jadi?, batinku. Aku sangat berharap bisa berangkat tahun ini. Setetes air jatuh, lalu menganak.
.......................................................................................................

Merenung. Penghujung malam. Keheningan suasana yang hanya bisa didapatkan saat sebagian manusia terlelap dalam tidurnya, menyisakan desahan nafas yang naik-turun teratur. Sangat menggoda untuk meletakkan badan di atas tempat tidur yang empuk, bukan? Namun, justru di waktu seperti ini, inspirasi sering aku dapatkan. Ide brilian, kejernihan berpikir, dan jalan keluar dari suatu masalah. Karena bisa langsung bertanya, mengadu, kepada Sang Pemilik Kebijaksanaan. Sehingga aku siap menyambut pagi dengan senyuman terindah. “Mengisi ulang energi” istilahku.

Hmmm... pasti semua ini ada hikmahnya. Namun sepertinya Dia belum berkehendak menyingkap tirai yang menutupinya. “Hikmah itu milik muslim yang hilang. Oleh karena itu, ambil/kutiplah dimanapun kamu menemukannya.” (lupa sumbernya). Apapun itu, pastilah yang terbaik untukku. “Saat Allah menunda sesuatu pemberian-Nya untukmu, anggaplah itu sebagai kesempatan untuk menyempurnakan ikhtiar dan keikhlasan. Niscaya kelapangan dan ketenangan jiwa akan engkau dapatkan.” Sebuah bisikan lembut terdengar. Oossh...! Baiklah. I got it!

“1 tahun ini harus digunakan untuk belajar lebih banyak lagi. Apapun itu, manasik kah, tulis-menulis kah, dll. Ah ya.., amanah di PEMAF juga belum selesai, manasik juga banyak bolosnya karna jadwal kuliah yang bejibun. Aha! Ini dia! Banyak urusan yang belum diselesaikan. Mungkinkah itu hikmahnya??”, tanyaku pada diri sendiri.

(Juni 2008)

Yak! Ini waktu dimana terlihat banyak asap di sekitar Unsyiah. Hah?! Ada apa?! Dimana kebakaran??? Oh..tenang...tenang.. cuma ada orang yang lagi bakar sampah kok....... Gak ding! “Asap” itu berasal dari kepala mahasiswa yang mesti bertempur menghadapi ujian semester genap. *lol* (ups, gak boleh ketawa gede-gede). Selamat berjuang teman-teman mahasiwa. SKS (Sistem Kebut Semalam) udah bisa diganti dengan SMS (Sistem Membaca Seminggu) dan gak usah bikin resep karena kita bukan mau masak (hoho.. :p). Semangaaat! p^0^q

(Akhir Juli-Agustus 2008)

Liburan semester tiba. Yihaaa! (eits, kalem..kalem..). Mau ngapain ya? Ambil semester pendek aja kali ya untuk habiskan liburan 1 bulan ini? Oya, proker (program kerja-red.) KESMA (bidang di PEMAF, aku wakilnya) bulan Agustus ini kan Tabligh Akbar untuk peringati Isra’ Mi’raj. “Mesti bikin rapat nih..”, kataku pada diri sendiri. Handphone berbunyi. “Mama” tertera pada layar hp.

“Assalamu’alaikum Ma..”, jawabku.

“Wa’alaikumsalam.. Bagus ya... udah seminggu nggak ada telpon orang tua. Udah lupa sama Mama ya?”, kata Mama.

“Hehe... maaf Ma.. udah niat mau nelpon kok. Masa’ lupa sama Mama sendiri? Nggak mungkin lah.”, jelasku. “Ayah sama Ari (adikku satu-satunya) sehat kan?”, sambungku.

“He-eh alasan. Alhamdulillah semua sehat. Kapan pulang ke Lhok? Udah libur kan? Ujian gimana?”, tanya Mama.

“Belum tau Ma. Soalnya di sini ada kegiatan PEMAF yang mau dibuat. Rencana Adek juga mau ambil SP. Kan lumayan, liburan jadi bermanfaat. Alhamdulillah ujian lancar-lancar aja. Tapi gak tau hasilnya, hehe..”, jawabku.

“Jeeehh.. masa’ liburan 1 bulan cuma untuk organisasi sama kuliah. Waktu untuk keluarga mana? Kita udah rindu kali sama dia. Gak boleh. Besok Adek pulang terus kemari. Mama gak ijin.”, jelas Mama.

Nah, mulai deh merajuknya. “Ma, Adek ‘kan punya amanah yang harus diselesaikan. Kalau Adek liburan gitu aja namanya kan gak bertanggung jawab. Lagipula Adek wakil ketua. Gimanapun Adek harus arahkan mereka supaya program tetap berjalan. Mama nggak mau kan Adek jadi orang yang gak bertanggung jawab? Ya udah, SP gak jadi ambil supaya Adek tetap bisa pulang. Gimana? Kasih ijin ya Ma..”, bujukku.

“Oh ya, Mama lupa bilang. Adek harus segera pulang. Mama mau ajak Adek ke Penang. Temenin Mama check up tulang pinggang. Ayah kan gak bisa sering cuti. Sekalian Adek check up juga. Mau berangkat haji harus cek kesehatan kan, walau gak jadi berangkat tahun ini, periksa lebih awal kan gak ada ruginya. Paspor urus terus di sana ya..” jawab Mama. Hatiku bertarung. Hah? Proker kiban? Perintah orang tua nih.. Birrul walidain, Ela..

“Ya udah.. Nanti Adek bicarakan sama pengurus yang lain. Moga mereka mau ngerti. Tapi kenapa tiba-tiba, Mamaku..?”, tanyaku lemah.

“Kapan lagi sempat kalau bukan waktu Adek liburan? Hari lain sibuk kuliah. Anak Mama tinggal 2 orang (kakakku sudah meninggal), Dek Ari masih kecil. Siapa lain yang bisa Mama minta temenin?”, jawab Mama. Ini dia, Mama mengeluarkan jurus ampuhnya. Tau aja kalau udah bilang gitu, aku tidak punya pilihan. Ya sudahlah, semoga berkah karena mematuhi ortu tercinta.
......................................................................................................................

PEMAF-MIPA singkatan dari Pemerintah Mahasiswa Fakultas MIPA, tempat dimana aku diberi amanah sekaligus pengembangan kualitas diri. Bidang yang aku urusi sebagai wakil bidang adalah KESMA (Kesejahteraan Mahasiswa). Markas PEMAF berpindah ke bagian utara kampus MIPA setelah pergantian kepengurusan dari BEM ‘07 ke PEMAF ‘08. See, namanya juga ikut diganti. Sepatutnya disyukuri, karena markas PEMAF yang kami tempati sekarang lebih luas dan nyaman, dekat dengan parkiran, dan ada jalan tikusnya (hanya pengurus yang mengerti :] ).

“Untuk proker bulan ini, gimana kesiapan dari bidang-bidang yang bersangkutan?”, tanya sekum (sekretaris umum-red.) PEMAF kepada anggota rapat. “Mulai dari bidang KESMA, bagaimana?”, sambungnya.

“Proker bulan ini dari bidang PEMAF, Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj. Konsep sudah selesai. Panitia juga sudah dibentuk. Tinggal realisasinya saja.”, jelasku.

“Tolong ditulis rencana keseluruhan di papan, biar yang lain bisa tau dan bisa kritisi kalau ada kekurangan.”, sekum mengarahkan.

Aku meminta Dina, salah satu anggota KESMA menulis rencana yang sudah disusun, hasil rapat dengan kabid (ketua bidang-red.) dan anggota bidang KESMA.
“Sambil menunggu Dina menulis, ada yang ingin Ela sampaikan. Insya Allah minggu depan, Ela mau pergi ke Penang dalam rangka check up kesehatan sekalian temenin orang tua La check up juga. Jadi, mengenai proker ini, mohon kerja sama semua pihak dalam menyukseskannya selama La gak berada di Aceh. Kabid juga lagi gak ada di sini waktu acara dilaksanakan, so, anggota KESMA untuk sementara gak punya induknya, hehe... . Bimbinglah mereka dalam proses realisasi proker ini.”, jelasku panjang lebar.

“Eeh... kok tiba-tiba La?”, Gubernur PEMAF, Bang Ari, angkat bicara. “Gak bisa ditunda dulu sampai acara ini selesai?”, tambahnya.

“La minta maaf untuk hal ini. Keberangkatan gak bisa ditunda. Tiket pun udah dipesan. Lagipula ini permintaan orang tua. Bagaimana mungkin La tolak? Mohon pengertiannya”, jawabku.

“Berat juga ngasih izinnya nih. Secara (kata ini populer dipakai dalam kalimat apapun) waktu acara, kabid dan wakabid KESMA gak ada di tempat." Dia terdiam dan berpikir. Tak lama kemudian, "Ya sudah kalau begitu. Apa boleh buat. Insya Allah semua pihak siap membantu menyukseskan acara ini. Semoga perjalanan nanti lancar. Asalkan jangan lupa oleh-olehnya, hehe...”, kata Gubernur. Semua mengamini terutama di bagian penyebutan “oleh-oleh” (Dasar kalian.. fufu...)

“Amiin.. makasih untuk doa dan pengertiannya. Insya Allah oleh-olehnya dibawa pulang, tapi gak janji ya.. hehe..”, tambahku.

“Gak boleh. Pokoknya harus bawa..”, celetuk salah seorang pengurus.

“Yaya.. harus bawa pulang. Kalau gak kami gak bantu.”, sahut yang lain.

“Jeeh.. kalian ini pamrih sangat (melayu mode-on). Kalau bantunya ikhlas kan dapat pahala. Masa’ mau bantu pake embel-embel? Ckckck..”, jawabku ringan.

“Gak eee kak... canda. Tetep bantu kok, tapi kalau ada oleh-oleh lebih semangat! Hihi..”, sahut lagi yang lain. Semua tertawa.

“Ya deh... Insya Allah diusahakan. Sekali lagi terimakasih untuk pengertiannya.”, jawabku tulus.

Lalu rapat dilanjutkan hingga semua proker masing-masing bidang selesai dibahas.

(September 2008)

Masa-masa sibuk mengurus pernak-pernik semester baru perkuliahan dan penerimaan mahasiswa baru 2009.

  • Agenda tetap : Silaturahmi Mahasiswa Baru dengan Mahasiswa Lama.
  • Pelaksana : Semua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan PEMAF bekerja sama.
  • Tempat : Lingkungan MIPA

Tahun ini ketua panitia dijabat oleh dosen. Bulan Ramadhan. Menarik, kan? Kegiatan diagendakan secara rapi. Rapat singkat namun padat digelar beberapa hari. Semua civitas akademika terlibat. Bagusnya, link-ku meluas dan berkesempatan untuk bekerja sama dengan orang yang usianya terpaut jauh denganku. Pak Ilham Maulana. Ketua panitia yang bijak dan baik hati. Terima kasih untuk semua nasehatnya, Pak.

Ah ya, kesan itu tercipta saat berkunjung ke rumah beliau beberapa kali. Rumah yang sederhana namun hangat. Istri yang ramah, cerdas, dan 3 orang anak yang lucu serta cerdas juga. Kebahagiaan yang sempurna.

Minusnya, ada satu hari dimana emosiku tidak bisa ditahan saat menghadapi peserta yang sungguh tidak menghargai panitia dan tidak disiplin. Marah, hal yang paling kuhindari dan kubenci. Bukan berupa teriakan atau bentakan, tidak. Aku hanya bertanya, tetapi dengan nada yang naik dua oktaf dan muka yang masam. Buruk sekali. Nafsu mengalahkan akal. Sisa hari itu kulalui tanpa semangat. Tahu kenapa? Karena merasa sangat merugi sudah melakukan hal yang kubenci di Bulan Ramadhan. Puncaknya, aku duduk di lantai ruangan yang digunakan untuk kegiatan silaturahmi tersebut. Menangis. Mau tahu kenapa? Karena selesai marah, aku pasti menangis untuk mengeluarkan emosi berlebih yang terakumulasi di otak. Awalnya hanya beberapa bulir yang jatuh, selanjutnya berubah menjadi isakan tertahan.

Azan ashar menggema. Marilah menghadap-Nya sejenak. Mencuci dosa. Rehat hati dan pikiran. Aku pergi begitu saja tanpa mengajak yang lain. Panitia yang lain merasa heran. Biasanya aku yang paling cerewet mengingatkan mereka untuk shalat. Ah, mereka tidak menyadari tangisanku. Hanya beberapa yang tahu dan memilih diam.

Kutumpahkan segala perasaanku pada-Nya. Mencari kesejukan di naungan-Nya. Pada kelembutan kasih-Nya. Seraya berharap, semoga saat aku sampai di tanah suci, sifat ini dapat kukendalikan dengan lebih baik.

Ajaib. Setelah itu aku mampu menyelesaikan pekerjaan di ruangan tadi dengan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Benarlah sabda Rasulullah saw. : “Dijadikan permata hatiku ada di dalam shalat.”. (kalau salah tolong dikoreksi ya.. ^-^)



(Oktober 2008)

“Labbaikkallahumma labbaik.. Labbaikala syariikala kalabbaiik...Innal hamda..Wanni’mata lakawalmuk.. Laa syariikalak..” Lantunan talbiyah mulai terdengar di iklan-iklan TV. Siluet gambar Ka’bah, Mesjid Nabawi, Bandara Jeddah, jutaan jamaah haji yang sedang tawaf, Mina, semuanya mulai ditayangkan. Apalagi di stasiun Jazirah Arab. Masya Allah... getaran semangat dan keharuan terasa sampai ke hati ini.

“Ya Allah, Engkau belum berkehendak membawaku ke rumah-Mu tahun ini. Benarlah, manusia hanya bisa berencana. Namun pada akhirnya, hanya skenarioMu yang mutlak berjalan. Akankah umurku cukup hingga aku sampai kesana Ya Rabb? Sempatkah kaki ini menginjak tanah suciMu? Ridhakah Engkau padaku atas semua itu?”, isakku saat melihat siluet gambar-gambar itu.

Bersambung...
Read More......

Sunday, September 19, 2010

Entahlah, jangan tanya padaku

Sekelebatan pemandangan. Darah. Wajah-wajah kesakitan. Potongan kayu. Sobekan baju. Urat leher yang menonjol. Orang-orang berlarian. Aku ikut berlari di sela-sela bau keringat dan rintihan sakit.



“Toloong.. tolooong..”



Di antara teriakan dan desingan peluru karet. Lari dan lari. Sambil melihat ke belakang, barisan almamater masih berusaha menembus blokade polisi. Asap memenuhi udara, memaksa kelenjar air mataku bekerja.



“Cepaaat....! Lari-lariiii!...Awaaasss...!”. Jatuh terjerembab. Berusaha bangkit. Lalu lari, lari, lari,....





.....

Seorang ibu berwajah lelah dan bayi dalam gendongannya, pulas. Di sampingnya wanita ber-make up tebal sibuk mengipasi diri dengan kipas kain norak. Seorang kakek memakai topi merah lusuh, baju oblong putih kusam, celana kain hitam, dan rokok terselip di bibirnya yang gelap berkeriput.



Tiba-tiba..., ”Tujuh lima, tujuh lima. Heh bu, geser sana biar muat penumpang lain! Biasa disitu muat lima orang! Itu baru empat!”. Seorang ibu berpakaian nggak-nyadar-umur, ketat membentuk tubuhnya yang gempal menggeser duduknya sambil memaki-maki sopir.



“Ciiiiiiiit....! Tiiin...tiiiiiiiiiin...!. Sopir mengerem sambil ngomel. Kepalaku terantuk dinding mobil yang karatan disana-sini.



Seorang bapak berperut khas paruh baya, wajahnya bergelambir penuh keringat, menyumpah-nyumpah sopir yang menyetir asal, ”Punya banyak nyawa kau, hah?! Kalau mau mati, mati saja! Gak usah bawa-bawa kami! Sopir goblok!” .



Sopir naik pitam. “Turun kau sekarang! Banyak mulut! Cepat turun!!”. Sambungnya, “Aku capek cari duit! Sumpek! Panas! Coba kau jadi sopir angkot! Barulah kau tau penderitaanku! Kau lihatlah keadaanku! Ini semua gara-gara para maling uang rakyat itu! Mereka sibuk membesarkan perut! Menghisap darah orang-orang nggak berdaya macam aku! Semua jadi hancur berantakan!”.

.....





Terdengar tangisan bayi. Keras. Memedihkan hati. Tangisan sedih, tapi tak tau berkata. Tangisan kecewa, kecewa yang tak tersampaikan.



Salah siapa?





.....





Menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berharap sesak dalam dada sedikit berkurang. Melintas sketsa baru. Aku tak sanggup menggeser tumit sepatuku untuk melangkah lebih jauh, melihat lebih dekat. Tidak, aku tak tahan melihatnya. Tidak, tidak, tidaak...!



Air mata mengalir di pipi keriputnya. Tangannya yang gemetaran sesekali mengusap kedua wajahnya. Tangan yang lain memegang erat bingkai foto berwarna kuning keemasan dengan sedikit ukiran di sudutnya. Bibirnya bergetar menahan isak. Hatiku hancur berkeping-keping, terbang bersama ingatanku akan sesosok wanita yang bersedia mengorbankan hidupnya untukku, yang wajahnya setia menemaniku saat aku merengek minta disusui.



“Saya hanya pengen rumah itu, yang jadi hak almarhum suami saya. Dia udah korbankan jiwanya untuk negara ini. Apa salah kalau saya menuntut penghargaan sedikit dari pengorbanannya itu? Waktu saya nggak lama lagi. Hidup yang tenang di rumah yang banyak kenangan dengan suami saya, apa tidak boleh? Sudah tua renta begini, apa harus menghabiskan masa tua saya di panti jompo?”.



!



!!!!



!!!!!!





Aku berlari sekencang-kencangnya. “Ya Allaaaaahhhhhhhh.....!!”





.....







Seorang laki-laki yang sedang asyik di depan layar komputernya. Mengambil sebuah modem merek A lalu menyambungkannya ke komputer. Setelah melakukan koneksi jaringan, dia mengklik ikon web browser lalu mengetik sebuah alamat website. Dia dipandu bisikan dari makhlukyangdilaknatTuhansampaiharikiamat, lalu tanpa ragu menekan tombol enter.



Gambar-gambar maksiat bermunculan dan dia semakin bersemangat surfing di dalamnya. Tak lama kemudian, maksiat yang lain terjadi dan makhlukyangdilaknatTuhansampaiharikiamat pun menandak-nandak di atas kepala laki-laki itu. Terus dan terus berasyik-masyuk, hingga Shubuh pun terlewatkan.



.....



Aku merasa jijik dan muntah.





.....





“Dana APBN yang tersedia sampai hari ini mencapai......”, bla bla bla. Terdengar penjelasan dari arah depan. Mikropon dihidupkan. “Interupsi...!”, bla bla bla. Mikropon dimatikan sambil mencibir. Udara dingin dari AC bertiup lembut, naik memenuhi ruangan yang sangat luas itu, didominasi warna coklat tua.



Sebuah nada dering hape terdengar pelan di sebelahku. “Sudah bisa? Baguslah. Hari ini saya mau pesan tiket ke Singapura. Besok jam 8. Saya mau beli tas tangan terbaru di sana. Apa? Merk? Louis Vutton dong. Channel? Ah, udah dari dulu. Terus kamu....,” bla..bla..bla..



Arah jam 9. Terkantuk-kantuk dengan punggung menyandar malas di kursi empuk. Bentuk perutnya yang buncit tersembunyi di bawah kemeja putih yang dikenakannya. Ujung dasi merah bergaris hitam menyentuh gundukan perutnya yang teratur naik turun. Orang itu sesekali melihat jam tangan dan merutuk, “Lama banget, kapan sih makan siang?.” Dengkuran halus.



Lembaran kertas berserakan di atas meja. Pulpen mulai mendingin, sendiri tanpa ditemani kehangatan jari.





.....





Matahari mulai angkuh. Menerbitkan panas yang luar biasa. Menusuk hingga ke dalam otot tubuh. Hembusan angin pun tak terasa. Di atas sana, langit terlihat keruh dan bertanya, “Di mana warna biruku?”

Bukan, bukan matahari yang angkuh. Tapi manusia yang angkuhnya mencapai titik akut sehingga alam pun tidak bersahabat lagi, nggak sudi, muak!



“Jreeeng..jreeng! Selamat siang Bapak, Ibu, Mbak-mbak, Mas... saya akan menyanyikan lagu dari Iwan Fals yang berjudul Surat Buat Wakil Rakyat.



Untukmu yang duduk sambil diskusi

Untukmu yang biasa bersafari

Di sana di gedung DPR



Wakil rakyat kumpulan orang hebat

Bukan kumpulan teman teman dekat

apalagi sanak famili



Dihati dan lidahmu kami berharap

Suara kami tolong dengar lalu sampaikan

Jangan ragu jangan takut karang menghadang

Bicara yang lantang jangan hanya diam



Di kantong safarimu kami titipkan

Masa depan kami dan negeri ini

Dari Sabang sampai Merauke



Saudara dipilih bukan dilotere

Meski kami tak kenal siapa saudara

Kami tak sudi memilih para juara

Juara diam juara he eh juara hahaha



Untukmu yang duduk sambil diskusi

Untukmu yang biasa bersafari

Di sana di gedung DPR



Dihati dan lidahmu kami berharap

Suara kami tolong dengar lalu sampaikan

Jangan ragu jangan takut karang menghadang

Bicara yang lantang jangan hanya diam



Wakil rakyat seharusnya merakyat

Jangan tidur waktu sidang soal rakyat

Wakil rakyat bukan paduan suara

Hanya tahu nyanyian lagu “setuju”



Aku hanyut bersama dawai petikan gitar yang bergelombang memenuhi atmosfer tepi jalan yang aku tapaki. Sekumpulan anak remaja duduk di sana, bercanda ria sambil latihan bernyanyi lagu yang kudengar tadi. Aku menghampiri mereka.



“Assalamu’alaikum...”, sapaku sambil tersenyum. Mereka terdiam, lalu beberapa tergagap menjawab salamku.



“Wa..wa..waalaikumsalam..”, yang lain nyengir.



“Kenalin dek, nama Mbak, Salsabila. Mbak boleh minta dinyanyiin satu lagu nggak ?”, tanyaku kepada seorang remaja berambut merah yang memegang gitar.



Bengong. Heran. Lalu, “Hah? eh..eh..boleh Mbak. Lagu apa, Mbak? Siapa tau saya bisa. Hehe...”, jawabnya sambil nyengir memamerkan barisan giginya yang kuning.



“Tadi kan Mbak denger kamu nyanyiin lagu Om Iwan Fals. Perasaan Mbak jadi campur aduk habis denger lagu itu.” Aku terdiam sebentar sambil berusaha meredam perasaanku yang nano-nano. Aku berusaha tersenyum. “Nah, sekarang coba deh kamu nyanyiin satu lagu yang bisa bikin suasana hati Mbak jadi enakan lagi”, pintaku pada anak itu.



“Kenapa jadi kayak permen nano-nano gitu Mbak? Hehe..” Dia berpikir sebentar. Tak lama kemudian tersenyum simpul. “Oh, saya tau kenapa Mbak bilang gitu...”, dia manggut-manggut sok tau.



“Kenapa coba?”, tanyaku.



“Ah, pokoke aku tau. Udah sering aku liat di tivi. Aku sendiri udah ngerasain, lha, aku ini buktinya tho Mbak. Tanah air kita ini....”. Dia berhenti sambil menatapku nanar.



“Nggak usah aku bilang lah Mbak. Kita semua dah tau, ya kan? Ntar perasaan Mbak makin kacau, ya tho? Hehe...”, sambungnya menetralkan suasana. Teman-temannya yang lain tertawa kecil. Ada yang melemparkan senyumnya ke arahku, senyum maklum sekaligus menghibur. Seharusnya aku yang menghibur mereka, malah aku yang dihibur, batinku.



“Iya deh, pinter”, jawabku sambil mengacungkan jempol. “Eh, jadi nggak nyanyi untuk Mbak?”, sambungku lagi.



“Oh, iya iya. Lupa aku. Lagu Utha Likumahua aja ya, Mbak. Judulnya Esok Kan Masih Ada”, imbuhnya. Aku mengangguk setuju.





“Jreeng..jreng jreng jreeng.....”



Wajahmu kupandang dengan gemas


Mengapa air mata slalu ada di pipiku


Hai nona manis biarkanlah bumi berputar



Menurut kehendak yang kuasa



Apalah artinya sebuah derita


Bila kau yakin itu pasti akan berlalu


Hai nona manis biarkanlah bumi berputar


Menurut kehendak yang kuasa



Reff#



Tuhan pun tau hidup ini sangat berat


Tapi takdir pun tak mungkin slalu sama


Coba-coba lah tinggalkan sejenak anganmu


Esok kan masih ada .. esok kan masih ada




Sambil tersenyum, dia mengakhiri nyanyian itu dengan manis. Aku balas tersenyum. Aku harus pergi, kalau tidak bisa terlambat, batinku. Aku sodorkan selembar 100 ribuan. Matanya membesar.



“Makasih ya dek, Mbak jadi terhibur. Mbak pergi dulu, nih, ada sedikit hadiah dari Mbak untuk nyanyianmu itu. Bagi-bagi sama teman-temanmu. Tapi janji sama Mbak, hari ini kalian nggak usah ngamen ya”, jelasku sambil menyapu pandangan semua wajah yang ada di situ.



“Horee... horee.. asiiikk!”, sorak mereka. “Makasih ya Mbak, makasih ya..”, celetuk salah seorang mereka.



“Makasih, Mbak.”, terdengar lagi. Mereka terus mengucapkan terima kasih. Aku tersenyum mengiyakan.



“Oh ya, nama kamu sapa?”, tanyaku kepada anak yang berambut merah tadi.



“Namaku Faiz, Mbak. Makasih ya Mbak untuk hadiahnya. Semoga Allah memberi Mbak rezeki yang melimpah dan hidup yang bahagia.”, jawabnya bijak. “Nggak hanya bahagia di dunia tapi juga di akhirat”, imbuhnya tulus.



Aku terharu seraya mengaminkan sepenuh hati. “Makasih atas doanya dek, semoga hal yang sama untuk kalian. Amiin...”, mereka mengaminkan. “Mbak pamit ya, Assalamu’alaikum..”, aku beranjak sambil tersenyum.



“Waalaikumsalam...”, mereka menjawab salamku kompak. Tak tergagap, tak ada cengiran. Yang ada hanya lengkungan indah di sudut kiri dan kanan bibir.



Butiran bening itu akhirnya jatuh bersama semilir angin yang bertiup pelan. Lalu naik, naik semakin tinggi dan menyatu dengan molekul air lainnya di lapisan stratosfer. Butiran dari sudut mataku, dari mata anak berambut merah itu, dan dari mata yang setiap harinya menengadah ke langit seraya berucap, “Terimakasih Tuhan..”. Berusaha bersyukur walau hidup kian terasa sulit.





.....





Aku masih terbang. Tak lama, aku mendarat di sisi tempat tidurku. Lelah. Terasa ada yang sakit. Aku cari di sekujur tubuh, di sayapku, tapi tak ada luka. Sakit..



Sakit dimana?



Luka. Mana yang luka?



Tak ada. Tapi terasa.



Ah, pastilah tak terlihat. Ya, jiwaku yang terluka.



Mengapa? Entahlah. Aku pun tidak tau.



Lelah. Lelah...



.....





Semua ini salah siapa?



Mahasiswa teriak-teriak. “Pemerintah! Pemerintah!”



Sopir menyumpah-nyumpah. “Penghisap darah rakyat itu!”



Para wakil tertawa licik dan berkata,” ..sok suci semua! Hidup butuh duit!”



Seorang laki-laki mendesah nikmat lalu berkata, “Apaan sih sibuk UU Pornografi, munafik lo!”



Orang tua menyalahkan anak. Anak menyalahkan orang tua.



Orang tua menyalahkan Ulama, Ulama ngomong berbusa-busa di kultum, gak sempat masuk telinga jamaah, udah terpental duluan saking bebal.



Orang awam ngekor aja yang penting hidup makmur.



....





Saling menyalahkan, terus berputar di lingkaran setan. Gak mau keluar. Yang nulis ini juga sama. Karena baru bisa sampai tahap menyampaikan, thok!







Aku...





Rindu menempati negeri penuh lengkung indah dimana tiada aroma pekat kesedihan dan luka.





Pernahkah engkau lihat awan yang berarak di hamparan langit biru umpama arakan kuda putih yang berjalan membawa sekedup cahaya?



Aku ingin masuk ke dalamnya.



Mungkin itulah jalan yang dapat membawa aku ke negeri itu.

Read More......

Friday, September 17, 2010

Perjalanan Ke Dua Tanah Suci (1)

Aku yakin pada untaian mimpi yang terwujud menjadi sepenggal episode kehidupan yang manis, bila dirajut dengan usaha dan doa. Selebihnya, biarlah skenario-Nya yang membuat semuanya menjadi lebih indah dan bermakna. . .

Berawal dari 4 tahun lalu, saat menyaksikan teman sekelasku di SMA yang menjemput cita dan cinta di tanah suci-Nya, menunaikan rukun kelima dalam Islam. Waktu itu, terbetik dalam hati ini keinginan untuk melakukan hal yang sama. Kerinduan menginjakkan kaki di sana menyergap begitu saja dan menggetarkan ruang hatiku. Sepulang sekolah, aku menceritakan pada kedua orang tuaku yang telah berhaji mengenai keinginanku itu. Mereka mengaminkan seraya berucap, “Kalau Allah berkehendak, tidak ada yang mustahil”.

Dan dimulailah pada malam-malam berikutnya, untaian doa mulai kurajut dengan kesungguhan agar Allah berkenan membawaku menyusuri jejak Rasul-Rasul terdahulu dan para sahabatnya dalam memperjuangkan Islam, untuk menyungkur di depan Ka’bah-Nya, bergabung dalam pusaran manusia mengelilingi orbit-Nya, yang tiada berhenti hingga Kiamat tiba.


Tak lama kemudian, setelah masa kelulusan lewat, lingkungan akademisku berganti. Universitas Syiah Kuala. Tempat selanjutnya yang kutuju untuk membongkar gudang ilmu yang telah dipilihkan Allah buatku. Ilmu Biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Walaupun sebagian orang mengatakan aku bisa lulus di kedokteran, tapi aku tetap kukuh untuk belajar ilmu tersebut. Karena aku yakin, pilihan Allah tidak pernah salah. Saat itu, impianku untuk berhaji terus mengusikku. Tentu saja, selain berdoa, aku juga mulai berpikir bagaimana cara agar hal itu terwujud. Aku berpikir untuk mulai menabung. Tidak peduli kapan terkumpul uang dalam jumlah yang dibutuhkan, aku harus berusaha. Dan pada saat itulah, Allah menunjukkan kekuasaanNya.

Aku tidak akan lupa. Malam itu, pada semester awal aku mengikuti perkuliahan, Mama menelpon untuk bertanya kabar, mengingatkanku untuk tidak lupa makan, dan beribadah. Sampai pada pertanyaan, “Adek, Mama sama Ayah ada uang lebih di tabungan, rencananya kami mau transfer ke tabungan Adek untuk biaya pendaftaran haji. Adek mau nggak?” tanya Mama. Hah?! Aku terkejut mendengarnya.

“Nggak salah nih?” tanyaku dalam hati. Aku merasa sedang bermimpi.

“Kalau Adek mau, biar Mama transfer dan bisa daftar terus. Kan waiting list-nya panjang tuh. Biar Adek sekalian pergi sama Bunda sekeluarga.” lanjut Mama. Bunda adalah panggilan untuk kakak Mama yang tertua. Selama 2 tahun menjalani perkuliahan, aku tinggal di rumah Bunda.

Aku tetap hening. Otak tak bisa mencerna. Bengong. Masih belum percaya. “Coba Adek pikirkan dulu. Nanti kalau udah ada keputusan, kabarin Mama ya..” tambah Mama saat tidak ada jawaban yang terdengar.


“Iya Ma..” jawabku. Masih dalam keadaan setengah sadar, kujawab salam Mama. Tik...tok...tik...tok... hanya terdengar gerakan jarum jam di dinding kamarku. Aku mencubit tanganku. “Adduhhh...!” keluhku sambil mengusap-usap tangan. Memang bukan mimpi. Seketika kesadaranku pulih. Aku langsung bersujud syukur.

“Alhamdulillah.... Allahu Akbar..!!” ucapku agak keras ditemani air mata yang mulai meliuk turun. Bahagia tak terkira. Baru saja aku berencana menabung, namun Allah memudahkan jalanku lewat rezeki yang diberikan-Nya kepada kedua orang tuaku.

Dari pembicaraanku dengan Mama di telepon, satu hal yang kusadari. Mama sepertinya sudah lupa tentang keinginanku untuk berhaji yang pernah aku utarakan waktu SMA dulu. Makanya Mama menyuruhku untuk berpikir ulang tentang keputusan untuk ikut atau tidak.

Dan Allah mulai mengujiku. Setan menghembuskan bisikan agar aku membatalkan niatku untuk pergi. “Nanti gimana dengan kuliahmu? Kamu pasti ketinggalan dari teman-temanmu.Coba ingat-ingat, tuh si A yang berangkat haji semasa perkuliahan, nilainya turun drastis. IP-nya hancur. Kamu mau merasakan hal yang sama?? Aahh...udaaahh..gak usah pergiii...!”. Keraguan menyusup halus. Aku beristighfar sembari meyakinkan diri. “Skenario-Nya tidak pernah salah. Allah telah menjawab doaku. Di luar sana, begitu banyak orang yang ingin berhaji tapi terkendala dengan finansial. Tetapi aku yang belum punya penghasilan, Allah mudahkan lewat kedua orang tuaku. Apakah aku harus ragu dengan keputusan-Nya? Bukankah Allah selalu memberi yang terbaik untuk hamba-Nya?”

Bismillah, aku memantapkan diri. Tidak ada lagi keraguan itu. Besoknya aku langsung menelpon Mama untuk memberi tahu keputusanku. Ucapan hamdalah keluar dari mulut wanita yang sangat aku cintai itu. “Alhamdulillah... senang Mama dengarnya. Tidak semua orang dapat kesempatan seperti Adek. Apalagi di usia muda seperti sekarang. Nanti kalau uangnya udah ditransfer, Mama kabari ya..” jawab Mama. “Oh ya.. jangan lupa terus berdoa agar dimudahkan semuanya. Juga Adek udah bisa mulai baca buku tentang manasik haji. Ibadahnya juga terus diperbaiki dan ditingkatkan. Persiapkan diri lebih awal kan nggak ada ruginya.” tambah Mama.

“Iya Ma. Insya Allah.” jawabku. Kuakhiri pembicaraan dengan mengucap salam.

****************************************************************************************

2 tahun kemudian....
(Mei 2008)

“Ela, Bunda mau daftar manasik haji di Yayasan Al-Mabrur. Ela ikut kan? Katanya bagus disana. Mama juga kenal pendirinya tuh. Dia dulu murid Mama waktu ngajar di SPMA.” tanya Bunda.

“Oh.. kapan mulainya, Bunda? Ela ikut lah..” jawabku.

“Minggu kedua bulan ini. Acaranya di mesjid Lampineung itu. Nanti ada kabar selanjutnya dari Yayasan. Kita tunggu aja.” jelas Bunda.

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Oh ya, Bunda udah tau belum kapan kita berangkat? Tahun ini ya? Kayaknya Bunda udah tau ni. Udah daftar manasik gitu.” tanyaku lagi.

“Belum ada pengumuman dari Depag. Nanti kalau nama kita ada, pasti dihubungi. Pak Cik juga lagi nyari info tentang ini. Kan Pak Cik banyak kenalan di sana.” jawab Bunda. Pak Cik itu panggilan untuk adik laki-laki Bunda yang paling muda. Berarti adik Mamaku juga. Tapi kami keponakannya sering memanggil dengan sebutan “Acik”. Lebih enak didengar.

“Cepat juga ya Bunda kalau tahun ini kita berangkat. Berarti waiting list-nya dua tahun.” tambahku.

“Iya, Alhamdulillah kan.. . Kalaupun nggak jadi tahun ini kita berangkat, minimal kita udah punya bekal ilmu manasik untuk berangkat kesana. Nggak jadi tahun ini, Insya Allah tahun depan.” kata Bunda lagi.

Tibalah waktunya manasik dimulai. Dari Bunda sekeluarga, yang mendaftar untuk berangkat haji adalah Bang Habibi, Dek Ami, Bunda. Dari Acik sekeluarga adalah Acik dan istrinya, Ammah Sarah. Jadi kami semua berjumlah 6 orang. Namun tiba-tiba.....

Bersambung....

Read More......
 
Copyright 2009 Sepenggal Episode Kehidupan. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator